Pedagang Korban Sedot Pulsa, Provider Lepas Tangan

INILAHCOM, Jakarta - Sejumlah pedagang pulsa dari salah satu provider terkenal, mengalami kerugian karena mengaku pulsa tiba-tiba raib. Kerugiannya mencapai ratusan juta rupiah.

Saat ini, para pedagang pulsa itu menunjuk tim advokasi yang dipimpin Syahrul Arubusman. Mereka berharap pihak provider bisa mengganti kerugian yang mereka derita.

Hari, salah satu korban mengaku proses penyedotan pulsa oleh pihak tidak dikenal berlangsung sangat cepat, yakni sekitar 5 menit.

Dalam kurun waktu itu maka pulsa yang dimiliknya raib sekitar Rp1juta hingga Rp2 juta dalam sekejab dan tanpa bekas. Atas kejadian ini, Hari mengadu ke agen. Pihak agen pun melanjutkan aduan ini kepada mitra. Dari mitra disampaikan ke dealer.

Dari pihak dealer mengadu ke provider. Aduan ke provider ini disampaikan melalui surat, email hingga tatap muka dengan sejumlah direksi provider tersebut. Sayangnya, pihak manajemen provider tidak memberikan penjelasan yang memuaskan.

Bahkan pihak provider terkesan menyalahkan dealer, sehingga terjadi proses penyedotan pulsa oleh pihak tidak yang dikenal. "Padahal di data yang kami punya proses penyedotan pulsa sekitar 20 detik. Makanya proses penyedotan pulsa itu sangat tidak masuk akal. Kita saja kalau melayani pelanggan sekitar 1 menit. Itu pun tidak berbarengan. Tapi pencurian pulsa itu berlangsung cepat," ujar Hari kepada wartawan di Jakarta, Jumat (8/6/2018).

Hari mengaku, bukan kali ini saja menjadi korban. Namun sebelumnya juga pernah mengalami hal serupa. Oleh karena itu berharap ada kejelasan terkait kejadian ini sehingga para pedagang pulsa yang selama ini telah membantu penjual tidak terus mengalami kerugian yang jika dijumlahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah. "Saya berharap ini kejadian terakhir dan tidak ada lagi korban berikutnya," jelasnya.

Pedagang lainya, Jhon mengaku sudah bertemu langsung dengan pihak provider, namun ia kecewa pihak provider seolah lepas tangan. "sampai sekarang kejadian serupa masih terjadi. Bahkan belum lama ini pulsa mitra saya kepotong tidak jelas," paparnya.

Syahrul Arubusman, mengatakan, kasus yang dialami pedagang pulsa tidak hanya berhenti sebatas poin-poin yang menyangkut informasi elektronik, melainkan lebih pada persoalan hal-hal yang bersentuhan langsung dengan persoalan yang menyangkut transaksi elektronik, karena bila ditinjau epistemologi dan atau definisi bahwa yang dimaksud transaksi elektronik adalah perbuatan-perbuatan hukum yang dilakukan dengan cara dan atau menggunakan seperangkat software seperti komputer, data, akses, jaringan (network), preferasi dan atau jaringan-jaringan lainnya yang erat kaitannya dengan transaksi elektronik.

"Bahwa sehubungan dengan kuasa yang mana kami ditunjuk selaku kuasa hukum dari para korban manajemen provider tersebut untuk segera merespon sekaligus bertanggungjawab atas segala derita kerugian ekonomi yang telah menimpa klien kami," paparnya.

Syahrul menegaskan, bila langkah-langkah arif yang dilakukannya tidak disikapi pula secara arif dari pihak managemen provider tersebut maka selanjutnya pihaknya akan menempuh melalui cara-cara hukum yang berlaku berdasarkan peraturan-peraturan hukum yang berlaku dimana yang termaktub Undang-undang ITE Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Elektronik dan Transaksi Elektronik, sebagaimana telah dirubah menjadi Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang ITE.

"Tindakan oknum-oknum provider tersebut dapat terjerat ke dalam delik-delik pidana sebagaimana termaktub dalam pasal-pasal yang secara formil telah tertera dalam KUHP, Pasal 362, 372, 374 dan 378. Kami mohon pihak manajemen provider tersebut untuk menyelesaikan kasus yang dialami klien kami sesegera mungkin," pungkasnya.

Sebelumnya Mabes Polri sempat mengusut kasus pencurian pulsa yang diduga dilakukan petinggi provider terkenal. Bahkan sudah ada yang dijadikan tersangka. [tar]

Pedagang Korban Sedot Pulsa, Provider Lepas Tangan