Polisi Tembak Begal, Pengamat: Bukan Solusi Kurangi Kejahatan

TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat kepolisian, Bambang Widodo Umar, mengatakan menembak pelaku begal atau jambret bukan solusi mengurangi tindak kejahatan di jalanan. Alasannya, banyak faktor yang mendorong pelaku berbuat tindak kejahatan.

"Tidak bisa diatasi hanya dengan main tembak alias destruktif. Dengan cara penindakan keras, hilang sebentar, nanti muncul lagi," kata Bambang kepada Tempo, Senin, 9 Juli 2018.

Bambang menjelaskan, ada berbagai motif yang melatarbelakangi pelaku melakukan begal atau jambret. Motif utamanya adalah materi. Karena tak punya pekerjaan, ujar Bambang, pelaku akhirnya melakukan kriminalitas demi mendapatkan uang.

Motif lain untuk menantang risiko, membuat sensasi sosial dan ketegangan, serta tak peduli dengan lingkungan sekitar. "Ini efek lingkungan sosial saat ini yang mencemaskan, di mana mental pelaku bisa mental disorder, naristik, paranoid, bahkan predator kriminal," kata Bambang.

Kepolisian Daerah Metro Jaya menggelar operasi khusus untuk memburu pelaku tindak kejahatan di jalan, seperti begal dan jambret. Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Idham Azis memerintahkan polisi menembak pejambret dan begal yang melawan.

Baru tiga hari operasi berjalan, polisi menembak 27 begal dan jambret. Sebanyak 387 orang terjaring polisi pada 3-5 Juli 2018. Dari jumlah itu, 73 pelaku ditangkap, 27 di antaranya ditembak.

Operasi khusus berlangsung pada 3 Juli-3 Agustus 2018. Operasi ini juga bertujuan mengantisipasi tindak kejahatan jalanan, terutama begal, menjelang pelaksanaan Asian Games pada Agustus 2018. 

Polisi Tembak Begal, Pengamat: Bukan Solusi Kurangi Kejahatan
Pengamat: Dua Cara Kurangi Aksi Begal dan Jambret