Ramadan Di Negeri Muslim Minoritas: Belajar Memahami, Ketimbang Minta Dipahami

Stockholm - Tahun ini merupakan kali kedua saya berpuasa di luar negeri, di negara yang bukan mayoritas penduduk muslim. Bagaimana rasanya? Tentu berbeda dengan berpuasa di Indonesia. Namun saya senang menjalaninya.

Pada 2013, dalam program pertukaran mahasiswa, selama satu bulan penuh saya berpuasa di Bangkok, Thailand. Kini pada 2018, saya bersyukur karena Tuhan memberi kesempatan untuk berpuasa di Stockholm, Swedia.

Berpuasa di sini sungguh menantang, tapi di sisi lain menambah wawasan serta memperkaya pengalaman. Tantangan pertama adalah durasi waktu berpuasa yang lebih lama apabila dibandingkan dengan Indonesia.

Baca juga: Seru dan Berkesan, Intip Kebiasaan Mahasiswa Rantau Taiwan Saat Ramadan

Waktu subuh di kota Stockholm sekitar jam setengah tiga pagi dan waktu magrib-nya sekitar jam setengah sepuluh petang. Dengan demikian, masyarakat muslim di sini berpuasa selama kurang lebih hampir 19 jam.

Ramadan di Negeri Muslim Minoritas: Belajar Memahami, Bukan Minta Dipahami Jadwal shalat di bulan Ramadhan tahun 2018/1439 Hijriyah. Foto: dok. pribadi

Saat ini, di Stockholm sedang masuk musim panas. Jadi waktu siang harinya lebih lama. Berbeda dengan saat musim dingin, sebaliknya waktu malam hari menjadi lebih lama.

Meski demikian, kondisi udara di sini tak sepanas seperti di Indonesia ataupun di Thailand. Suhu udara rata-rata berkisar antara 23-27 derajat Celcius dengan kelembaban udara 30-40% pada siang hari.

Hanya saja, sebagian besar kami tidak tidur di malam hari. Waktu tidur malam pindah jadi siang atau sore hari, menyesuaikan dengan aktivitas masing-masing. Hal ini karena kalau tidur malam rasanya tanggung sekali dan juga supaya tidak terlewat waktu sahur.

Selain waktu tidur, pola makan juga ikut berubah. Ada yang berbuka puasa dengan makanan ringan, lalu makan besar saat sahur, sehingga satu hari makan besar satu kali saja.

Saya sendiri berbuka puasa dengan makan besar seperti nasi, lauk, dan sayur. Setelah berbuka kemudian salat maghrib di flat, dilanjutkan bergegas ke masjid untuk salat isya', tarawih, dan witir. Sepulang dari masjid, saya makan dengan menu ringan sebelum disambung makan besar untuk sahur.

Langit musim panas Stockholm pukul 10 petang. Langit musim panas Stockholm pukul 10 petang. Foto: dok. pribadi

Tantangan kedua adalah perjuangan untuk bisa melaksanakan shalat tarawih dan witir berjamaah di masjid. Bagi saya, selain menjalankan puasa, bulan Ramadan terasa kurang lengkap tanpa tarawih dan witir bersama di masjid.

Hal ini memang tidak wajib, namun bukankah lebih diutamakan di masjid? Khususnya bagi laki-laki. Mohon koreksinya jika kurang tepat. Lagipula, rangkaian ibadah tersebut hanya ada saat Ramadan. Jadi, sangat sayang kalau dilewatkan.

Ketika di Indonesia, saya bisa tarawih dan witir di masjid dekat rumah yang jaraknya lima menit berjalan kaki. Saya juga bisa dengan mudah melakukannya di masjid-masjid lain baik saat tinggal di Palembang maupun Yogyakarta karena banyak pilihannya.

Waktu di Thailand, saya biasa tarawih dan witir di ruangan muslim club di kampus bersama teman-teman muslim. Lokasi muslim club itu juga tidak jauh dari asrama mahasiswa.

Sedangkan di Swedia, jarak masjid terdekat dari flat saya kurang lebih 25 menit dengan transportasi umum. Nama masjidnya Masjid Aysha. Karena waktu isya' baru sekitar pukul 22.45 CEST, saya harus cermat memperkirakan waktu agar tidak ketinggalan bus dan metro (kereta bawah tanah).

Saya pun selalu pulang tengah malam ke flat. Meski begitu, saya bersyukur karena transportasi umum di sini terintegrasi dan jadwalnya dapat diketahui pasti.

Salat tarawih di Masjid Aysha, jumlah rakaatnya 23. Namun saya hanya ikut sampai 8 rakaat saja, lalu memisahkan diri untuk witir 3 rakaat sendiri. Beberapa jamaah lain juga melakukan seperti ini.

Selain di Masjid Aysha, saya melaksanakan tarawih dan witir secara bergantian di Stockholm Central Mosque dan Masjid Bredang. Lokasinya tidak terlalu jauh dari flat, sekitar 30-45 menit perjalanan, dan dekat dengan stasiun metro sehingga pulangnya lebih mudah.

Suasana tarawih di Stockholm Central Mosque. Suasana tarawih di Stockholm Central Mosque. Foto: dok. pribadi

Untuk di Central Mosque dan Masjid Bredäng, jumlah rakaatnya 11. Ada ceramah singkat, tak sampai lima menit, tepatnya setelah 4 rakaat pertama shalat tarawih. Kemudian saat witir, setelah rukuk pada rakaat terakhir ada doa qunut.

Biasanya tarawih di kedua masjid ini selesai sekitar jam 12 kurang sepuluh, nyaris tengah malam ganti hari. Untuk keseluruhan tarawih di kota Stockholm, dilakukan langsung usai shalat isya, jadi tidak ada jeda setelah shalat isya.

Budaya Musim Panas

Tantangan ketiga adalah budaya masyarakat setempat ketika musim panas tiba. Berbeda dengan musim dingin, di mana orang-orang lebih senang berada di dalam rumah dan berpakaian serba tertutup, di musim panas, mereka lebih senang berada di luar rumah dan berpakaian serba terbuka.

Banyak yang berjemur menikmati matahari, terutama di area taman, termasuk di taman kampus dan sekitar flat. Ditambah lagi, tak sedikit pula yang menikmati es krim.

Bagi saya, tidak ada yang salah dengan semua itu, sebab berpuasa adalah benar-benar jadi urusan kita dengan Sang Pencipta. Belajar untuk mengerti, bukan minta dimengerti. Belajar untuk memahami, bukan minta dipahami. Belajar untuk menghargai, bukan minta dihargai.

Perubahan budaya atau culture shock itu wajar bagi siapa saja yang merantau. Dan kita tak bisa mengatakan sepihak mana yang benar dan salah, cukup menerimanya sebagai budaya.

Selain itu, waktu berpuasa kali ini bersamaan dengan masa ujian akhir semester. Sebagian berpendapat bahwa boleh tidak berpuasa dan nanti menggantinya di hari lain.

Namun saya berpemahaman bahwa uzur berpuasa yang terutama adalah bagi orang yang sakit, berpergian jauh, ibu hamil dan sedang menyusui, serta orang tua renta yang secara fisik kurang mampu. Karenanya, saya bertekad untuk tetap berpuasa. Sekali lagi, mohon koreksinya jika kurang tepat.

Tantangan keempat adalah tidak ada muslim club di kampus. Memang mengherankan tidak ada komunitas mahasiswa muslim, akan tetapi begitulah kondisi di kampus saya saat ini.

Tidak ada tarawih bersama seperti saat di Thailand, tidak ada tukar-menukar hidangan khas negara masing-masing seperti cerita kawan-kawan yang berkuliah di beberapa negara lain.

Di sini juga tidak ada pasar yang menawarkan jajanan khas berbuka puasa. Namun beberapa masjid menyediakan menu takjil.

Buka Puasa Bersama yang Sebenarnya

Di balik semua tantangan, puji syukur warga negara Indonesia (WNI) di sini berkesempatan untuk mengadakan buka puasa bersama. Bagi kami, acara kebudayaan dan keagamaan seperti ini, bukan sebatas memperingati, melainkan juga sebagai ajang mempererat silaturahmi.

Pada 26 Mei 2018, diadakan buka puasa bersama dengan seluruh masyarakat Indonesia yang tinggal di Stockholm, bertempat di Wisma Indonesia. Hidangannya disiapkan oleh pihak wisma.

Selanjutnya pada 2 Juni 2018, diadakan lagi buka puasa bersama dengan teman-teman mahasiswa, bertempat di kediaman salah seorang dari kami. Hidangannya disiapkan secara bergotong-royong oleh kami semua. Inilah buka puasa bersama yang tak sekadar sebutan, namun buka puasa yang sebenar-benarnya karena begitu terasa kebersamaannya.

Berbuka puasa bersama teman-teman PPI Stockholm. Berbuka puasa bersama teman-teman PPI Stockholm. Foto: dok. pribadi

Ada yang membawa makanan, minuman, dan peralatan seperti piring, sendok, dan gelas plastik. Tak ketinggalan, menu khas Indonesia yang dimasak sendiri oleh teman-teman mahasiswa, seperti ote-ote, bubur kacang hijau, ayam geprek, tempe mendoan, tumis kacang panjang, es campur, dan lain-lain.

Menu berbuka puasa ala teman-teman PPI Stockholm. Menu berbuka puasa ala teman-teman PPI Stockholm. Foto: dok. pribadi

Demikian tantangan bulan Ramadhan versi saya di Stockholm. Bulan puasa bukan sebatas menahan lapar dan haus, melainkan juga mengendalikan hawa nafsu seperti menjaga pandangan, perkataan, dan perbuatan, dalam perjalanan menuju pribadi yang lebih baik lagi.

Baca juga: Meretas Jalan Membangun Masjid Unik di Shizuoka

Berpuasa di sini selain melatih lebih peka dan peduli, juga belajar untuk lebih memposisikan diri, lebih bijak untuk mengatur waktu, serta lebih disiplin dan tegas pada diri sendiri.

Awalnya terkesan sulit, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Satu hal yang juga disadari: Indonesia adalah satu, tidak bisa dipecah oleh perbedaan suku dan agama. Akhir kata, selamat beribadah, sukses untuk semuanya, dan salam hangat dari Swedia.

*) Ahmad Satria Budiman adalah mahasiswa program master tahun pertama di jurusan Macromolecular Materials, KTH Royal Institute of Technology, Stockholm, sekaligus pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia di Swedia (PPI Swedia).

*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dan PPI Dunia.

Bagi Anda para pembaca detikcom yang memiliki cerita berkesan Ramadan seperti di atas, silakan kirimkan tulisan Anda ke e-mail: ramadan@detik.com. Jangan lupa sertakan nomor kontak Anda dan foto-foto penunjang cerita.

(rns/rns)

Ramadan di Negeri Muslim Minoritas: Belajar Memahami, Ketimbang Minta Dipahami
Syahdunya Idul Fitri di Cuaca Mendung Tokyo